“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh”
Tampilkan postingan dengan label Sejarah dan Fakta. Tampilkan semua postingan

31 Jul 2013

Kafir Buddha Membakar Hidup-hidup Muslim Burma


Pembantaian Meluas, Kafir Buddha Bakar Hidup-hidup Muslim Burma


بسم الله الرحمن الرحيم
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang


 Selebaran Anti-Islam dan pamflet Anti-Islam telah disebarkan di seluruh Burma sejak eskalasi kekerasan di Arakan dimulai pada bulan Juni tahun lalu (2012). Selama rentang waktu dari tanggal 20 Maret 2013 – 28 Maret 2013, sebanyak 28 masjid telah dibakar dan ribuan rumah dihancurkan oleh kaum kafir Buddha. Tanpa terkecuali, kekerasan dilakukan secara besar-besaran oleh masyarakat Buddha terhadap keluarga Muslim dan komunitasnya, termasuk anak-anak dan bayi mereka.
Serangan dimulai di daerah Meikhtila, yang merupakan tempat komunitas Muslim telah lama tinggal dan mentap,  kemudian kerusuhan menyebar ke kota-kota lain di divisi Mandalay dan divisi Pegu Barat. Sebanyak 13 kota telah diserang, masjid-masjid dan harta benda kaum Muslimin telah dihancurkan; dan sebanyak 13.000 orang terpaksa mengungsi dari Meikhtila. Perlu diingat saudara-saudari Muslim tercinta, provinsi Mandalay berada jauh dari Arakan dan merupakan salah satu titik pusat Burma.


Saudara-saudari Muslim tercinta, ini bukanlah konflik masyarakat atau konflik sektarian antara Buddha yang mayoritas dengan Muslim yang minoritas: ini adalah rangkaian ketidakadilan, serangan keji lagi mematikan yang menargetkan harta benda dan perniagaan kaum Muslimin ini, terjadi di bawah kendali  Negara.


Para pejabat negara Burma beserta warga sipil Buddha bergabung melakukan pengusiran terhadap warga Muslim (Muslim Rohingya, Muslim Kaman dan Muslim Burma) di seluruh Burma dengan taktik dan metode rahasia yang berbeda-beda; pembunuhan massal, penembakan terbuka, memperkosa para wanita, menjarah harta benda dan uang, penangkapan yang semena-mena, pembakaran rumah-rumah, membakar hidup-hidup para guru dan siswa, pembakaran terhadap  Al-Qur’an yang mulia, masjid-masjid serta madrasah-madrasah melalui berbagai peristiwa rekayasa yang perlahan-lahan semakin serampangan.


[Foto Sebagian Kaum Muslimin yang Dibakar]
Sekarang, kami ingin berbagi dengan kalian apa yang dialami oleh kaum Muslimin Burma dalam beberapa hari terakhir ini:

  • Di kota Meikhtila, Divisi Mandalay, serangan dan kerusuhan anti Muslim menyebabkan kerusakan ratusan bangunan dan rumah, kendaraan dan sepeda motor, serta masjid-masjid. Orang-orang dipukuli secara brutal, diserang dengan parang dan dibakar dijalan-jalan. Diperkirakan sebanyak 50 orang meninggal akibat insiden ini.
[Foto Sebagian Kaum Muslimin yang Dibakar]

 [Masjid dibakar di Divisi Madalay - Burma]


  • Pembunuhan terhadap 28 anak dan 4 guru yang diambil dari sebuah madrasah pada tanggal 21 Maret. Pasukan keamaan di daerah tersebut tidak melindungi madrasah ini, meskipun sudah ada permintaan dari organisasi-organisasi Islam di sana. Saat ini, terdapat sekitar 13.000 pengungsi di daerah tersebut, banyak dari mereka yang mencari perlindungan di kamp-kamp Meikhtila. Sementara itu, para pengungsi dibiarkan tanpa adanya jaringan komunikasi, mereka juga kehabisan makanan dan air.

 [Beberapa kaum Muslimin berkumpul di kamp dengan rasa takut]


Saudara-saudari Muslim tercinta, sekarang kami akan menceritakan pada kalian beberapa insiden pada episode pembantaian ini.

Insiden 1:

Di antara rumah-rumah dan bangunan yang dibakar itu, adalah Madrasah Hamayatul Islam yang merupakan Madrasah terbesar yang berada di desa Mingalar Zayyu. Para ekstrimis Buddha sepanjang malam merasa bebas untuk melakukan pembunuhan massal, menyerang kaum Muslimin dan membakar rumah-rumah mereka,  dengan berdasarkan pada hukum Marshal-144, maka kaum Muslimin tidak diperbolehkan keluar sementara di situ tidak ada penghalang dari tentara dan pasukan keamanan terhadap kaum Buddha rasis.
Pada pukul 3 dini hari, seorang penganut Buddha yang baik yang tinggal berdekatan dengan Madrasah memanggil dan membawa semua guru dan siswa Muslim ke rumahnya untuk menyelamatkan jiwa mereka. Kemudian pada pukul 4 dini hari Madrasah tersebut dibakar menjadi abu oleh para Buddha rasis.

 [Foto sebagian Umat Muslim yang dibakar di Burma]

Sekitar pukul 6 pagi, sekelompok ekstrimis Buddha mengepung rumah milik orang Buddha yang baiki tu yang telah menyelamatkan para siswa dan guru Muslim, dirumah itu mereka sedang tertidur dengan rasa takut dan kelelahan. Para ekstrimis meminta pemilik rumah agar mengeluarkan seluruh kaum Muslimin, sambil menodongkan panah besi, pedang, pisau, batang besi, bambu runcing dan tongkat kayu. Orang Buddha yang baik itu meminta agar mereka tidak menyerang orang-orang Muslim tersebut karena kebanyakan dari mereka hanyalah anak yatim piatu dan datang dari jauh untuk mendapatkan pendidikan agama dan bukan untuk hal lain. Para teroris Buddha itu tidak peduli, lalu kemudian membakar rumah tersebut untuk mengeluarkan seluruh guru dan siswa-siswa Muslim didalamnya.

 [Foto Penghancuran perkampuan Muslim di Burma]

 [Foto Penghancuran perkampuan Muslim di Burma]

[Seorang Muslim dibakar di jalanan Burma]

Insiden 2 :

Ini informasi berasal dari sumber terpercaya di Matella, toko-toko Muslim dari gudang perhiasan bagian timur telah dihancurkan oleh kerumunan Buddha dan mereka mengajak para jema’at Buddha lainnya untuk memulai konflik agama. Penyebab awal kerusuhan tersebut adalah karena sengketa antara penjual dan pembeli emas.

 [Foto Penghancuran toko milik Muslim di Burma]

Rincian penyebab kerusuhan: Seorang gadis Buddha datang ke toko emas milik seorang Muslim dan berselisih dengan keponakan pemilik toko tersebut, karena gadis Buddha itu berusaha menjual emas imitasi dan kemudian dia kembali ke rumahnya, tetapi gadis tersebut malah datang kembali bersama dengan penduduk desanya untuk berselisih, kemudian urusan tersebut diselesaikan dengan cepat.
Tidak berapa lama kemudian, penduduk desa dari gadis tersebut menghancurkan toko emas dan toko-toko lainnya milik kaum Muslimin dan segera setelah itu polisi lokal, polisi lalu lintas dan pemadam kebakaran membubarkan kerumunan orang-orang Buddha tersebut.

[Foto Penghancuran toko milik Muslim di Burma]

Sesungguhnya dalam kejadian yang mengerikan ini, kaum rasis Buddha dipimpin oleh seorang mentor Virathu Buddha keji dari Myanmar tengah, divisi Mandalay, bersama dengan beberapa anggota NLD yang selalu menghasut Islamphobia di seluruh Burma, merekalah yang menyebabkan terjadinya kerusuhan ini.

[Foto Penghancuran Madrasah di Burma]

Insiden 3 :

Pada tanggal 2 April 2013, sekitar pukul 02.45 dini hari, Madrasah Swardikiyah dibakar, dan 13 orang siswa terbakar hidup-hidup di dalamnya, di jalan no. 48 kota pelabuhan Botataung, Yangon. Tapi pemerintah dengan cepat mengumumkan bahwa kebakaran tersebut berasal dari kabel listrik yang rusak di Masjid, padahal saksi mata melihat orang-orang melempar bom bensin ke dalam gedung.

 [13 siswa dibakar hidup-hidup di Madrasah ini]

 [Muslim Burma berdoa kepada Allah agar menghentikan pembantaian ini]

Madrasah ini tidaklah menyimpan barang-barang yang mudah terbakar seperti bensin atau pun minyak tanah. Mayat-mayat yang terbakar itu ditemukan berada di satu tempat. Salah satunya tidak terbakar sama sekali, tetapi dia juga ikut tewas, dan kelihatannya mereka sedang tertidur di kasur saat kejadian.
Pihak berwewenang mengatakan bahwa kebakaran berasal dari konsleting  listrik, akan tetapi orang-orang di sekitar sekolah mendengar suara benturan keras dua jam sebelum kebakaran.
Mereka tidak mempedulikan dari mana datangnya suara tersebut karena mereka sedang tertidur. Mayat-mayat yang terbakar tersebut kemudian dibawa ke rumah sakit jenazah, sedangkan para siswa yang selamat ditempatkan di sebuah kamp. Ini bukanlah konsleting, melainkan kebakaran yang disengaja sebagaimana yang dikatakan oleh seorang warga dari area kebakaran tersebut.

 [Foto Pembakaran Perkampungan Muslim]

 [Foto Pembantai Muslim di Burma]


Laporan mengenai apa yang sebenarnya terjadi di Burma tengah, kota Meikhtila, masih terus bermunculan, tetapi para pengungsi (IDPs) telah mulai berbicara keluar dan menyampaikan kepada dunia apa yang mereka saksikan dengan mata kepala mereka sendiri.


Saudara-saudari tercinta, sekarang akan kami membagi kalian kisah nyata yang berasal dari sumber terpercaya.

“Mereka memukulnya di depan saya. Saya melihatnya. Saya masih bisa melihatnya,” Noor Bi menangis saat dia menggambarkan bagaimana suami dan saudaranya dibunuh di depan matanya ketika dia melarikan diri dari Meikhtila.

Jumlah mereka melebihi jumlah polisi, sehingga polisi tidak dapat melindungi minoritas Muslim di kota itu. Wanita berusia 26 tahun ini sekarang telah menjadi janda memiliki seorang anak berumur 3 tahun.

Saat ia menceritakan kisahnya dan apa yang ia saksikan, orang-orang di sekitarnya yang berada di kamp pengungsian sementara di Madrasah Yindaw –sekitar 10 mil sebelah selatan Meikhtila— mulai menangis. Orang-orang tua terisak saat mendengar penderitaannya.

“Mereka memukul dan terus memukulnya, suami dan saudaraku masih hidup saat mereka membakarnya. Mereka dibakar hidup-hidup,” air matanya mengalir saat dia meneruskan kisahnya.

“Setelah mereka selesai, mereka menyuruh kami bersujud kepada mereka. Kami terus bersujud ke Mekah, akan tetapi mereka mulai memukul kami,” Noor menghentikan sejenak ceritanya dan nampaknya dia enggan memberitahu penderitaan dia selanjutnya.

“Polisi meminta para biksu dan orang-orang agar berhenti memukuli kami dan meyakinkan mereka bahwa kami akan bersujud kepada para biksu tersebut,” Orang-orang yang mendengarkan ceritanya dengan jelas menunjukkan rasa murka mereka atas apa yang dia gambarkan.

“Mereka membuat kami terpaksa menyembah mereka. Itulah sebabnya kenapa kami masih bisa hidup saat itu,” dia menundukkan matanya, menghindari kontak mata dengan saya atau dengan yang lainnya.
Tidak ada yang menyalahkan dia; orang-orang Muslim hanya bersujud pada Allah dalam setiap sholat, tetapi ini terkait hidup dan mati, dan para pengungsi di sekitar dia, baik laki-laki maupun perempuan, muda maupun tua, dan semua Muslim, memahami hal ini lebih dari siapapun.

Para biksu yang meminta untuk disembah itu masih berusia muda. Noor Bi bahkan dipukuli ketika dia tengah menggendong anaknya yang berumur 3 tahun sehingga anaknya terjatuh. Kemudian anaknya diselamatkan oleh seorang wanita Buddha yang kemudian melindunginya dan membawanya ke tempat yang aman.

Sebanyak 15 orang wanita dinaikkan ke truk dan dibawa ke kantor polisi. Polisi meminta mereka untuk tetap tenang, sementara mereka ingin kembali lagi dan menyelamatkan yang lain.

Noor Bi tidaklah sendirian. Muhammad yang berumur 16 tahun (namanya diganti demi keselamatan) juga menyaksikan teman-temannya dibunuh di depan matanya.

Kekerasan dimulai pada tanggal 20 Maret setelah perselisihan di toko emas yang menyebabkan serangan masal ke minoritas Muslim di Meikhtila.

Muhammad dan teman-temannya bersembunyi ketika para biksu Buddha membakar asrama sekolah mereka. Keesokan harinya pada pukul 09.30 pagi, polisi tiba dengan tiga truk untuk membawa para siswa ke tempat yang aman.

Muhammad dan para siswa diminta oleh polisi untuk naik ke atas truk petugas. Tapi tersisa satu masalah; mereka harus sampai ke truk sementara kerumunan orang-orang Buddha berdiri di antara mereka dengan jalan menuju ke truk.

“Saya merasa sakit saat terakhir mengingatnya,” matanya terlihat lelah, dia bilang bahwa dia tidak bisa tidur dan bermimpi buruk malam itu. “Orang-orang Buddha menghalangi jalan kami, meski ada pengawalan polisi di sana. Kami terus mencoba berjalan, jumlah polisi tidak cukup untuk melindungi kami,” matanya penuh dengan kepedihan.

“Kami harus meletakkan kedua tangan di atas kepala kami dan menundukkan kepala seraya memberi hormat ke para biksu saat kami berjalan.” Muhammad mengangkat kedua tangannya di atas kepala dan menggabungkan kedua telapak tangannya untuk menggambarkan apa yang mereka terpaksa lakukan.“Mereka mulai menyerang kami, dan saya melihat teman-teman saya dibunuh.”

“Mereka menyeret Abu Bakr ketika dia berusaha naik truk, kemudian mulai memukulinya, dan dia masih hidup saat mereka melemparkannya ke api. Ia kembali berdiri, kemudian mereka menusuk perutnya dengan pedang, mereka memutar pedangnya padahal pedang itu masih tertancap di tubuhnya,” dia mengambil nafas dalam-dalam, kedua tangannya menegang dan saling menggenggam.

“Saya masih bisa melihat dan mendengarnya.” Keluarga Muhammad berdiri di sekitarnya mencoba memberinya dukungan, pamannya menggosokkan tangannya ke punggungnya, berusaha meringankan penderitaan anak muda ini agar bertahan. Muhammad menceritakan bahwa di antara orang-orang Buddha tersebut terdapat wajah-wajah baru;  mereka memiliki rambut merah yang panjang.

Seratus orang mulai berjalan menuju truk-truk polisi. Tapi, 25 siswa dan 4 guru telah dibunuh, dipukuli, ditusuk dan dibakar hidup-hidup. Tujuh puluh satu orang berhasil selamat, akan tetapi secara mental mereka takut untuk hidup. Masih ada banyak gambar dan saksi mata lain yang menguatkan kisah ini.

 [Beberapa kafir Buddha berdiri memegang senjata]

 [Beberapa kafir Buddha berdiri dengan senjata]

Kekerasan di Meikhtila memicu kekerasan anti Muslim di seluruh Burma tengah, menyebabkan tersebarnya penghancuran rumah-rumah, masjid-masjid dan toko-toko.

Selama musim panas tahun 2012, dunia telah menyaksikan orang-orang Rakhine mengobarkan api kebencian untuk mengusir Muslim Rohingya dari tempat mereka.

Sekarang kita menyaksikan kaum radikal beraksi sekali kembali. Blokade-blokade sedang diperkuat agar Muslim Rohingya tetap berada di desa-desa mereka dan di kamp-kamp konsentrasi. Kehadiran polisi sedang dibangun dengan kuat melebihi kekuatan aslinya. Kehadiran militer ada di mana-mana sebagai tentara Thein Sein yang bersiap untuk mendukung kaum Rakhine dalam rencana pembantaian mereka yang sudah tergambar di ufuk.

Di Maungdaw, Negara bagian Arakan, Nasaka (polisi perbatasan) menyerukan agar semua warga Rohingya menghadiri kuliah umum terkait aturan baru yang akan mereka berlakukan secara paksa.
Dalam pertemuan dengan para pemimpin desa dan tokoh masyarakat Rohingya ini, Nasaka memberi tuntutan yang lebih keras dibanding sebelumnya. Sekarang, Muslim Rohingya dilarang keluar rumah dari jam 10 malam sampai jam 6 pagi. Muslim Rohingya tidak diizinkan keluar tapal batas desa-desa mereka. Para petani harus meminta izin untuk meninggalkan desa ketika mereka pergi ke sawah. Mengunjungi anggota keluarga harus didokumentasikan dan dilaporkan ke penjaga Nasaka. Dan siapapun yang tertangkap melanggar peraturan tersebut akan diambil untuk di hukum pada kantor Garda Nasaka .

Yang lebih penting lagi, setiap rumah yang hancur yang tidak diberikan izin oleh Nasaka juga akan dihukum secara ekstrem oleh militer atau polisi. Penting diingat bahwa Nasaka tidak peduli bagaimana rumah tersebut hancur. Mereka hanya mencari alasan untuk digunakan saat menyerang Muslim Rohingya dan memasukkan mereka ke penjara-penjara dan rumah-rumah penyiksaan. Tidak peduli apakah rumah tersebut dihancurkan oleh Rakhine atau tidak, Muslim Rohingya-lah yang harus membayar ganti ruginya.

Penting diingat juga bahwa kehadiran polisi baru di daerah tersebut bukanlah untuk melindungi Muslim Rohingya melainkan untuk membela orang Rakhine. Karena undang-undang baru tersebut tidak berlaku untuk orang Rakhine. Maksud mereka hanya supaya Muslim Rohingya tetap berada di satu tempat di mana mereka akan mudah diserang dan dibunuh ketika orang Rakhine bergerak. Hal ini merupakan langkah terencana untuk menyiapkan daerah Maungdaw sebagai gelombang pembersihan etnis selanjutnya.


Situasi Terkini Muslim Rohingya yang tinggal di kamp pengungsi di Bangladesh

Kamp Pengungsian Rohingya di Bangladesh menjadi tempat yang menyedihkan untuk dihuni. Para pengungsi terjebak dalam situasi yang sangat sulit, setelah meninggalkan rumah-rumah mereka, kemudian mereka harus hidup di salah satu tempat yang paling miskin di dunia dengan penduduknya yang sangat padat. Mereka hidup di kamp-kamp di mana mereka tidak di izinkan untuk bekerja, memiliki sedikit pilihan, sedikit sumber daya dan sedikit harapan.

Mendapatkan akses untuk mem-photo kamp-kamp pengungsian Rohingya hampir mustahil bisa dilakukan. Pemerintah Murtad Bangladesh tidak memiliki ketertarikan agar kisah-kisah Muslim Rohingya terpublikasikan dan tidak pula memberi akses bagi para wartawan.

Puluhan ribu orang terjebak dalam keterlantaran, tidak dapat bergerak maju ataupun mundur kembali. Mereka bisa meninggal karena penyakit, kekurangan gizi, umur yang tua, kelahiran, dan saya membayangkan sebagian dari mereka meninggal karena keputus asaan. Mereka terjebak… Dan berharap belahan Muslim di belahan dunia lain mulai memperhatikan mereka.

Disini kami menyeru kepada seluruh umat Islam di dunia, dibelahan bumi barat dan timur, untuk memberi perhatian dan pertolongan kepada saudara-saudara mereka di Burma. Sungguh kita telah menyaksikan, sebagaimana dunia ikut menyaksikan pembantaian dan pembersihan etnis Muslim di Tanah Burma, sebagaimana hal yang sama pernah terjadi di Bosnia, Kosovo dan terus terjadi di Palestina.

Kami menghimbau khususnya kepada saudara-saudara Muslim di Mesir, Tunisia dan Turki agar mereka turun ke jalan untuk menampakan dukungan dan persaudaraan dengan kaum Muslimin Burma yang tertindas.

Dan terkhusus kepada Kaum Muslimin Indonesia dan Malaysia serta Bangladesh, sesungguhnya kalian berada pada wilayah Bulan Sabit Islam, yang seharusnya menjadi benteng Islam dari arah Timur Jauh, maka jangan biarkan Islam diserang dari arah kalian, inilah saudara-saudara kalian kaum Muslimin di Burma telah memanggil kalian, inilah kesempatan kalian untuk berjihad dengan harta dan nyawa guna menolong saudara-saudara kalian di Burma. Sesungguhnya mereka kaum Muslimin di Burma, sedang hidup diatas api, tidur dengan api dan berselimutkan api, maka kewajiban kalian setelah Iman kepada Allah, adalah berjihad untuk menolong mereka.


Ya Allah Tolonglah Saudara-saudara kami Muslim Burma yang tertindas di Burma dan yang menggelandang untuk menyelamatkan Dien mereka.


Ya Allah tolonglah Saudara-saudara kami yang tertindas di Thailand, Kashmir, Srilanka, Assam, Gujarat, Palestine, Suriah dan disetiap tempat.. Tolonglah mereka dengan sebaik-baik Pertolongan-Mu ya Rabb.


Ya Allah kirimkanlah tentara-Mu para Mujahidin untuk menolong mereka..


Ya Allah tolonglah para Mujahidin di setiap tempat, satukanlah kalimat mereka dan hati mereka, angkatlah perpecahan dan perbedaan diantara mereka..


Ya Allah Yang Maha Perkasa, Hancurkanlah kaum kafir Burma, India, Srilanka, Thailand dan Nusairiy.. Binasakanlah mereka dan jangan sisakan satupun dari mereka.


Akhir seruan kami, segala puji hanya bagi Allah dan salawat serta salam bagi Nabi Muhammad serta untuk seluruh keluarga dan sahabatnya dan yang mengikuti jalannya hingga hari kiamat.



Shaban 1434/Juli 2013

Sumber: (Markaz Sada Al-Jihad untuk Media)
read more

24 Des 2011

25 Desember Bukanlah Hari Kelahiran Yesus Tetapi Hari Peringatan Berhala

Bissmillah, tulisan ini bukan untuk “ikut-ikutan” merayakan perayaan natal, tapi untuk memberikan pengetahuan/fakta dibalik natal, sebagai umat Islam kita semua meyakini tentang nabi Isa ‘alaihissalam berdasarkan al Qur’an dan Sunnah.

Umat kristiani mengklaim bahwa 25 Desember adalah hari kelahiran Yesus (dalam keyakinan umat islam adalah Nabi Isa ‘alaihissalam). Apakah benar natal adalah hari kelahiran Yesus? apakah natal adalah ajaran Bibel?

Sejarah Natal
Kata Christmas (Natal) yang artinya Mass of Christ atau disingkat Christ-Mass, diartikan sebagai hari untuk merayakan kelahiran “Yesus”. Perayaan yang diselenggarakan oleh non-Kristen dan semua orang Kristen ini berasal dari ajaran Gereja Kristen Katholik Roma. Tetapi, dari manakah mereka mendapatkan ajaran itu ? Sebab Natal itu bukan ajaran Bibel (Alkitab), dan Yesus pun tidak pernah memerintah para muridnya untuk menyelenggarakannya. Perayaan yang masuk dalam ajaran Kristen Katholik Roma pada abad ke-4 ini berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala.

Karena perayaan Natal yang diselenggarakan di seluruh dunia ini berasal dari Katholik Roma, dan tidak memiliki dasar dari kitab suci, maka marilah kita dengarkan penjelasan dari Katholik Roma dalam Catholic Encyclopedia, edisi 1911, dengan judul : Christmas, Anda akan menemukan kalimat yang berbunyi sebagai berikut :

”Christmas was not among the earliest festivals of Church…the first evidence of the feast is from EgyptPagan customs centering around the January calends gravitated to Christmas”.
Artinya : “Natal bukanlah upacara Gereja yang pertama….melainkan ia diyakini berasal dari Mesir. Perayaan yang diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh pada bulan Januari, kemudian dijadikan hari kelahiran Yesus” [selesai].

Dalam Ensiklopedi itu pula, dengan judul Natal Day; Bapak Katholik pertama mengakui bahwa :
”In the Scriptures, no one is recorded to have kept a feast or held a great banquet on his birthday. It is only sinners (like Pharaoh and Herod) who make great rejoicings over the day in which they were born into this world”.
Artinya : “Di dalam kitab suci, tidak ada seorang pun yang mengadakan upacara atau menyelenggarakan perayaan untuk merayakan hari kelahiran Yesus. Hanyalah orang-orang kafir saja (seperti Fir’aun dan Herodes) yang berpesta-pora merayakan hari kelahirannya di dunia ini” [selesai].

Encyclopedia Britanica yang terbit tahun 1946 menjelaskan sebagai berikut :
”Christmas was not among the earliest festival of the church…. It was not instituted by Christ or the apostles, or by Bible authority, it was picked up afterward from paganism”.
Artinya : “Natal bukanlah upacara gereja abad pertama. Hal ini tidak pernah diselenggarakan oleh Yesus atau para muridnya, ataupun otoritas Bibel. Upacara ini diambil oleh gereja dari kepercayaan penyembah berhala” .
Encyclopedia Americana terbitan tahun 1944 juga menyatakan berikut :
”Christmas…. It was, according to many authorities, not celebrated in the first centuries of the Christian church, as the Christian usage in general was to celebrate the death of remarkable persons rather than their birth…” (The “Communion”, which is instituted by New Testament Bible authority, is a memorial of the death of Christ). “…A feast was established in memory of this event [Christ’s birth] in the fourth century. In the fifth century the Western Church ordered it to be celebrated forever on the day of the old Roman feast of the birth of Sol, as no certain knowledge of the da of Christ’s birth existed”.
Artinya : “Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan oleh gereja Kristen. Pada umumnya, umat Kristen hanya merayakan hari kematian orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah merayakan harikelahrian orang tersebut…”. (”Perjamuan Suci” yang tertera dalam Kitab Perjanjian Baru, hanyalah untuk mengenang hari kematian Yesus). ”…Perayaan Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus, mulai diresmikan padaabad keempat Masehi. Dan pada abad kelima Masehi, Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Romawi yang merayakan hari Kelahiran Sol (Dewa Matahari). Sebab tidak seorang pun yang mengetahui hari kelahiran Yesus”.
Sekarang perhatikan ! Fakta sejarah telah membeberkan kepada kita bahwa mulai lahirnya gereja Kristen pertama sampai dua ratus atau tiga ratus tahun kemudian – jarak waktu yang lebih lama dari umur negara Amerika Serikat – upacara Natal tidak pernah dilakukan oleh umat Kristen. Baru setelah abad keempat, perayaan ini mulai diselenggarakan oleh orang-orang Kristen Barat, Kristen Roma, dan Gereja. Menjelang abad kelima, Gereja Roma memerintahkan untuk merayakan sebagai hari raya umat Kristen yang resmi.

YESUS TIDAK LAHIR PADA TANGGAL 25 DESEMBER
Sungguh sangat mustahil jika Yesus dilahirkan pada musim dingin [1]. Sebab Injil Lukas 2:11 menceritakan suasana di saat kelahiran Yesus sebagai berikut :
“Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka : ”Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa : Hari ini telah lahir bagimu Juru selamat, yaitu Kristus, di kota Daud” [selesai].

Tidak mungkin para penggembala ternak itu berada di padang Yudea pada bulan Desember. Biasanya, mereka melepas ternak ke padang dan lereng-lereng gunung. Paling lambat tanggal 15 Oktober, ternak tersebut sudah dimasukkan ke kandangnya untuk menghindari hujan dan hawa dingin yang menggigil. Bibel sendiri dalam Perjanjian Lama, kitab Kidung Agung 2; dan Ezra 10:9,13 menjelaskan bahwa bila musim dingin tiba, tidak mungkin para gembala dan ternaknya berada di padang terbuka di malam hari.

Adam Clarke mengatakan :
”It was an ancient custom among Jews of those days to send out their sheep to the field and desert about Passover (early spring), and bring them home at commencement of the first rain”[Adam Clarke Commentary, Vol. 5, Page 370, New York].
Artinya : “Adalah kebiasaan lama bagi orang-orang Yahudi untuk menggiring domba-domba mereka ke padang menjelang Paskah (yang jatuh awal musim semi), dan membawanya pulang pada permulaan hujan pertama” .

Adam Clarke melanjutkan :
“During the time they were out, the shepherds watch them night and day. As….the first rain began early in the month of Marchesvan, which answers to part of our October and November (begins sometimes in October), we find that the sheep were kept out in the open country during the whole summer. And, as these shepherd had not yet brought home their flocks, it is presumptive argument that October had not yet commenced, and that, consequently, our Lord was not born on the 25th of December, when no flock were out in the fields; nor could He have been born later than September, as the flocks were still in the fields by night. On this very ground, the Nativity in December should be given up. The feeding of the flocks by night in the fields is a chronological fact… See the quotations from the Talmudists in the Lightfoot”.

Artinya : “Selama domba-domba berada di luar, para penggembala mengawasinya siang dan malam. Bila…hujan pertama mulai turun pada bulan Marchesvan, atau antara bulan Oktober dan Nopember, ternak-ternak itu mulai dimasukkan ke kandangnya. Kita pun mengetahui bahwa domba-domba itu dilepas di padang terbuka selama musim panas. Karena para penggembala belum membawa pulang domba-dombanya, berarti bulan Oktober belum tiba. Dengan demikian dapatlah diambil kesimpulan bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember, ketika tidak ada domba yang berkeliaran di padang terbuka. Juga tidak mungkin dia lahir setelah bulan September, karena di bulan September inilah domba-domba masih berada di padang waktu malam. Dari berbagai bukti yang ada, kemungkinan lahir di bulan Desember itu harus disingkirkan. Memberi makan ternak di malan hari di padang gembalaan adalah fakta sejarah….sebagaimana yang diungkapkan oleh Talmud dalam bab ”Ringan Kaki” .

Dalam ensiklopedi manapun atau juga dalam kitab suci Kristen sendiri akan mengatakan kepada kita bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Catholic Encyclopdia sendiri secara tegas dan terang-terangan mengakui fakta ini.

Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan hari kelahiran Yesus yang sebenarnya. Jika kita meneliti dari bukti-bukti sejarah dan kitab suci Kristen sendiri, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa Yesus lahir pada awal musim gugur – yang diperkirakan jatuh pada bulan September – atau sekitar 6 bulan setelah hari Paskah.
Jika Tuhan menghendaki kita untuk mengingat-ingat dan merayakan hari kelahiran Yesus, niscaya Dia tidak akan menyembunyikan hari kelahirannya.

Proses Natal Masuk ke Gereja
NewSchaff – Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge dalam artikelnya yang berjudul “Christmas” menguraikan dengan jelas sebagai berikut :
“How much the date of the festival depended upon the pagan Brumalia (Dec. 25) following the Saturnalia (Dec. 17-24), and celebrating the shortest day of the year and ‘the new sun’…can not be accurately determined. The pagan Saturnalia and Brumalia were too deeply entrenched in popular custom to be set aside by Christian influence… The pagan festival with its riot and marrymaking was so popular that Christians were glad of an excuse to continue its celebration with little change in spirit and in manner. Christian preachers of the West and the Near East protested against the unseemly frivolity with which Christ’s birthday was celebrated, while Christians of Mesopotamia accused their Western brethren of idolatry and sun worship for adopting as Christian this pagan festival.
Artinya : “Sunguh banyak tanggal perayaan yang terkait pada kepercayaan pagan/penyembah berhala Brumalia (25 Desember) sebagai kelanjutan dari perayaan Saturnalia (17 – 24 Desember), dan perayaan menjelang akhir tahun, serta perayaan menyambut kelahiran matahari baru….tidak dapat ditentukan secara pasti (jumlahnya). Adat kepercayaan pagan Brumalia dan Saturnalia sudah berurat berakar dan populer tersebut dalam adat istiadat tersebut diambil oleh Kristen. Perayaan ini dilestarikan oleh Kristen dengan sedikit mengubah jiwa dan tata caranya. Para pendeta Kristen di Barat dan Timur Dekat menentang perayaan kelahiran Yesus yang meniru agama berhala ini. Di samping itu, Kristen Mesopotamia menuding Kristen Barat telah mengadopsi model penyembahan terhadap dewa Matahari” .

Perlu diingat ! Menjelang abad pertama sampai abad keempat Masehi, dunia dikuasai oleh imperium Romawi yang paganis politeisme. Sejak agama Kristen masih kecil sampai berkembang pesat, para pemeluknya dikejar-kejar dan disiksa oleh penguasa Romawi. Setelah Konstantin naik tahta menjadi kaisar, kemudian memeluk agama Kristen pada abad keempat Masehi, dan menempatkan agama sejajar dengan agama kafir Roma, banyak rakyat yang berbondong-bondong memeluk agama Kristen.

Tetapi karena mereka sudah terbiasa merayakan hari kelahiran dewa-dewanya pada tanggal 25 Desember, mengakibatkan adat tersebut sulit dihilangkan. Perayaan ini adalah pesta-pora dengan penuh kemeriahan, dansangat disenangi oleh rakyat. Mereka tidak ingin kehilangan hari kegembiraan seperti itu. Oleh karena itu, meskipun sudah memeluk agama Kristen, mereka tetap melestarikan upacara adat itu. Di dalam artikel yang sama – New Schaff – Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge menjelaskan bagaimana kaisar Konstantin tetap merayakan hari “Sunday” sebagai hari kelahiran dewa matahari. Dan bagaimana pengaruh kepercayaan kafir Manichaeisme yang menyamakan Anak Tuhan (Yesus) identik dengan ”Matahari”. Kemudian pada abad keempat masehi, kepercayaan itu masuk dalam agama Kristen. Sehingga perayaan hari kelahiran Sun-God (Dewa Matahari) yang jatuh pada tanggal 25 Desember, diresmikan menjadi hari kelahiran Son of God (Anak Tuhan – yaitu Yesus).

Demikianlah asal-usul ”Christmas” atau Natal yang dilestarikan oleh dunia barat sampai sekarang. Walaupun namanya diubah menjadi selain Sun-DaySon of GodChristmas, dan Natal; pada hakekatnya sama dengan merayakan hari kelahiran dewa matahari. Sebagai contoh, kita bisa saja menamakan kelinci itu dengan nama singa, tetapi bagaimanapun juga fisiknya tetap kelinci.

Marilah kita kembali membaca Encyclopedia of Brittanica yang mengatakan sebagai berikut :
“Certain Latins, as early as 354, may have transferred the birthday from January 6th to December 25, which was then a Mithraic feast….. or birthday of the unconquered Sun… The Syrians and Armenians, who clung to January 6th, accused the Romans of suns worship and idolatry, contending…that the feast of December 25th, had been invented by disciples of Cerinthus…”.
Artinya : “Kemungkinan besar bangsa Latin/Roma sejak tahun 354 telah mengganti hari kelahiran dewa Matahari dari tanggal 6 Januari ke 25 Desember, yang merupakan dari kelahiran anak dewa Mitra atau kelahiran dewa Matahari yang tidak terkalahkan. Tindakan ini mengakibatkan orang-orang Kristen Syiria dan Armenia marah-marah. Karena sudah terbiasa merayakan hari kelahiran Yesus pada tanggal 6 Januari, mereka mengecam bahwa perayaan tanggal 25 Desember itu adalah hari kelahiran Dewa Matahari yang dipercayai oleh bangsa Romawi. Penyusupan ajaran ini ke dalam agama Kristen, dilakukan oleh Cerinthus” .

Catatan kaki :
[1] Di wilayah Yudea, setiap bulan Desember adalah musim hujan dan hawanya sangat dingin.
source : The Plain Truth About Christmas oleh Herbert W. Armstrong (1892 – 1986 – Worldwide Church of God, California USA 1984.

sumber: arrahmah.com
read more

11 Des 2011

Video Bukti Nyata Kedekatan Hubungan Syi'ah Iran dengan Amerika dan Israel


Video yang berdurasi 52:32 menit ini membongkar hakekat kejahatan Syi’ah. Video ini juga menunjukkan fakta-fakta yang belum pernah kita temui sebelum ini, seperti hubungan langsung antara Syi’ah Iran dengan penjajah salibis Amerika dan Israel.
Bahkan pengakuan-pengakuan dari mulut-mulut busuk petinggi syi’ah mengenai hubungan mereka dalam melawan Mujahidin Al Qaeda dan Thaliban di Afghanistan dan Iraq, serta membantai kaum Muslimin Ahlus Sunnah di sana.

Jika sebelum ini banyak yang mengganggap bahwa Ahmadinejad seorang pahlawan Islam dan Iran selalu di garda depan dalam membela Islam, semua pemikiran itu akan hilang setelah anda melihat bukti yang disajikan.
Semoga bermanfaat dan semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka yang masih menganggap syi’ah sebagai bagian dari Islam, mereka sebenarnya adalah dajjal pengkhianat. Semoga Allah menghinakan mereka, Amin…

Sumber: arrahmah.com
read more