“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh”
Tampilkan postingan dengan label Mu'alaf. Tampilkan semua postingan

15 Des 2011

Melinda Baily: "Berat Rasanya Menyampaikan pada Keluarga Ketika Ingin Masuk Islam"

Melinda Baily pertama kali mengenal Islam setelah kakak perempuannya berkenalan dengan seorang lelaki Muslim. Keluarga Baily yang kini menetap di North Carolina adalah keluarga Kristiani, namun mereka menerima kehadiran lelaki muslim itu di tengah keluarga mereka.

Awalnya, Melinda yang lahir dari perkawinan campuran ayah asal Polandia dan Ibu asal Italia ini tidak tertarik dengan Islam. Dengan latar belakang penganut agama Kristen Katolik yang cukup taat, Melinda dan keluarganya mencoba menyelidiki tentang cara pandang, tentang agama Islam dan semua hal yang terkait dengan lelaki muslim tersebut karena hubungannya dengan kakak Melinda makin serius.

Akhirnya, kakak Melinda menikah dengan lelaki muslim itu. Namun kakak Melinda belum masuk Islam, dan memutuskan untuk mencari tahu lebih banyak dulu tentang Islam sebelum mereka punya anak.

"Kakak saya tidak mau mengenalkan pada anak-anaknya agama yang dia sendiri tidak meyakininya. Dia ingin anak-anaknya kelak mendukung sesuatu yang dia yakini. Sejak itu, kakak saya rajin menggali informasi tentang Islam dan itu berlangsung selama dua tahun.

Dari dua tahun pencariannya itu, kakak Melinda membulatkan tekad memeluk Islam. Pada keluarga, kakaknya mengatakan bahwa ia tidak percaya lagi dengan konsep trinitas dalam agama Kristen.

"Mulanya, saya dan keluarga benar-benar takut melihat perubahan besar pada kakak saya, pada sistem keyakinannya, pada cara ia bertingkah laku, bahkan pada caranya berpakaian," ungkap Melinda yang membuatnya sama sekali tidak berminat pada Islam.

Suatu ketika, kedua orang tua Melinda tidak lagi pergi ke gereja meski mereka masih mempercayai dan memeluk agama Kristen. Waktu itu, Melinda masih duduk di sekolah menengah atas. Melihat orang tuanya tak lagi ke gereja, membuat Melinda bingung tentang agama apa yang ia yakini. Itulah titik dimana Melinda membuat keputusan untuk mencari sendiri agama apa yang ia anggap benar dan ia yakini, dan tidak cuma menerima agama yang harus dianutnya sejak ia dilahirkan.

Melinda meyakini, pencariannya akan memperkuat keyakinannya pada Kristen atau memperkuat keyakinannya jika ia memang ingin masuk Islam seperti kakak perempuannya. Namun, usia remajanya saat itu, belum membuat Melinda punya keberanian untuk memilih antara keduanya. Layaknya seorang remaja, ia masih lebih senang melakukan banyak aktivis lainnya sebagai remaja, dibandingkan memikirkan soal agama apa yang akan dipilihnya.

Sebelum Memutuskan Masuk Islam

Kakak Melinda yang menikah dengan lelaki muslim, pindah ke luar negeri. Tiap kali pulang untuk liburan, Melinda melihat kakaknya makin relijius dan lebih ketat dalam menjalankan ajaran Islamnya. Kakaknya lalu mengenalkan Melinda dengan seorang muslim, dan Melinda mulai menjalin hubungan dengannya.

"Sebelum hubungan kami makin serius, kami memutuskan untuk tidak saling bertemu. Saya ingin betul-betul mempelajari Islam dan akan memutuskan agama apa yang benar-benar ingin saya anut," ujar Melinda.

Ia mengakui, motivasinya untuk mendalami Islam adalah untuk mengambil keputusan apakah ia akan melanjutkan hubungan yang lebih serius dengan lelaki muslim yang dikenalkan kakaknya itu. Bagi Melinda, keputusan itu akan menjadi langkah besar.

"Kita hidup dengan seseorang yang beda agama dalam sebuah perkawinan dengan campuran bukanlah hal yang mudah, seperti dua orang menikah yang menjalankan ajaran agama yang berbeda. Saya betul-betul ingin melakukan riset sebelum saya membuat keputusan," kata Melinda.

Hal pertama yang ia cari tahu tentang Islam adalah tentang hak kaum perempuan dalam ajaran Islam. Melinda mengakui dirinya terpengaruh dengan berbagai cerita miring tentang perempuan dalam Islam dan tentang agama Islam pada umumnya dari media massa. Setelah mempelajari sendiri tentang hak-hak perempuan dalam Islam, Melinda baru menyadari kesalahan pandangan yang ia dengar selama ini tentang Islam.

"Sebelumnya, saya pikir, Islam memaksa perempuan untuk mengenakan jilbab, menyuruh perempuan berjalan di belakang suaminya, harus duduk di bangku belakang saat naik kendaraan, dan berbagai hal negatif yang ternyata tidak benar," tutur Melinda.

Semakin dalam mempelajari Islam, Melinda sangat terkejut karena ternyata banyak hal yang ia setujui dalam ajaran Islam, termasuk bahwa Islam memberikan banyak hak dan kesempatan bagi kaum perempuan. Karena banyak hal yang ia sepakati, Melinda pun makin termotivasi untuk terus mempelajari agama Islam.

Beberapa kisah dalam Al-Quran, kata Melinda, mempermudahnya memahami Islam. Apalagi banyak hal dan cerita dalam Quran yang mirip dengan apa yang ia ketahui dalam ajaran Kristen, kecuali konsep Trinitas yang tidak ada konsep ajaran Islam. Di sisi lain, Melinda bisa menerima dengan terbuka dan lapang dada perbedaan-perbedaan yang ada dalam ajaran Islam dan ajaran Kristen.

"Yang saya suka dari Islam, Islam memberikan kebebasan bagi umatnya untuk mempertanyakan dan mencari tahu atas sesuatu yang dianggap tidak masuk akal, dan dicari kebenarannya secara ilmiah, historis dan secara logika," ungkap Melinda.

Pada tahun 2008, Melinda memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Sekarang, setelah tiga tahun menjadi seorang muslimah, Melinda mengakui beratnya menjadi minoritas di negara yang memiliki kecurigaan besar terhadap Islam dan Muslim, ditambah lagi dengan pemberitaan media yang bias.

"Saya ingat ketika pertama kali mempertimbangkan untuk menikah dan masuk Islam, susah rasanya menyampaikan pada keluarga yang dari generasi ke generasi sebagian beragama Katolik, sebagian beragama Kristen, dan AS adalah negara Kristen," tukas Melinda.

"Ketika banyak prasangka buruk, sangat berat menghadapinya ketika Anda meyakini sebuah kebenaran. Kondisi semacam itu menghalangi orang untuk mencari tahu dan melihat sesuatu dengan optimis," sambung Melinda.

Di tengah kesulitan itu, Melinda bersyukur akhirnya bisa menikah dan memilih Islam. Ia kini menjalani kehidupannya sebagai seorang muslimah.
read more

4 Jul 2011

Khalid Shabazz Mualaf Yang Menjadi Ustadz di Kemiliteran AS

Khalid Shabazz adalah satu dari lima pembimbing rohani muslim yang bertugas di basis militer AS di Eropa. Perjalanan hidup lelaki asal Alexandria itu, sampai menjadi seorang da'i yang memberikan bimbingan rohani bagi para prajurit AS di Eropa, cukup unik. Ia adalah seorang mualaf yang tekun mempelajari dan memperdalam Islam hingga dipercaya menjadi ustaz.

Nama aslinya adalah Michael Barnes, lulusan perguruan tinggi Jarvis Christian College, menganut aliran Kristen Lutheran. Sebelum bergabung dengan kemiliteran, Ia bekerja di jaringan pertokoan terkemuka di Baton Rouge dengan penghasilan 67 USD per minggu.

"Saat itu, istri saya sedang mengandung anak kedua. Saya harus melakukan sesuatu untuk hidup saya. Saya menemui tenaga rekrutmen dan akhirnya bergabung dengan kemiliteran. Saya masuk ke bagian artileri. Masuk ke kemiliteran adalah hal terbaik dalam kehidupan saya," ujar Shabazz.

Sebagai seorang prajurit artileri, Shabazz hidup prihatin. Tidur di tempat yang kondisinya sangat buruk, disumpahi, dibentak-bentak, tapi itu semua justru mendewasakannya sebagai manusia dan menjadi titik awal ia mengkaji ulang kehidupan religiusnya.

Suatu hari, Shabazz yang waktu itu belum masuk Islam bertanya pada seorang prajurit yang muslim tentang konsep-konsep ajaran Islam. Shabazz terpesona dengan respon dari prajurit muslim itu dan memutuskan untuk mempelajari agama Islam.

Selama dua tahun Shabazz menekuni agama Islam, dan dalam perjalanananya mempelajari Islam, ia memutuskan untuk menjadi staf di kemiliteran. "Saya masuk sekolah staf militer, karena saya ingin keluar dari pasukan artileri," ujarnya.

Dalam kurun waktu dua tahun itu pula, Shabazz memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dan menjadi seorang muslim. Ia pun mengganti nama Michael Barnes menjadi Khalid Shabazz. Ujian pertamanya setelah menjadi seorang muslim adalah, ketika ia ditolak untuk meningkatkan skornya agar bisa masuk ke Sekolah Kandidat Opsir. Keislaman dan rutinitas Shabazz menunaikan salat Jumat, menjadi alasan penolakan itu.

Shabazz merasa sangat kecewa. Ia lalu mengadukan persoalannya dan bermaksud minta bantuan pada seorang pembimbing rohani Islam yang bertugas di kemiliteran. Ustaz yang ditemui Shabazz malah menanyakan, mengapa Shabazz tidak mencoba menjadi pembimbing rohani saja, jika ditolak masuk Sekolah Calon Opsir, agar ia bisa membantu orang yang menghadapi persoalan seperti dirinya.
Itulah awal cerita Shabazz menjadi seorang pembimbing rohani di dinas kemiliteran AS. "Saya kira hidup ini begitu menakjubkan. Kalau waktu itu saya dibolehkan meningkatkan skor nilai saya agar diterima di sekolah calon opsir, saya mungkin tidak akan pernah menjadi seorang pembimbing rohani atau ustaz di sini," ungkap Shabazz.

Bertugas Sebagai Ustaz di Kemiliteran
Shabazz lalu belajar metodologi Al-Quran, hadis dan perbandingan agama selama dua setengah tahun, untuk menjadi imam di Graduate School of Islamic and Social Sciences di Ashburn. Ia juga belajar bahasa Arab selama dua tahun di Universitas Yordania di Amman.

Shabazz resmi menjadi pembimbing rohani di kemiliteran AS pada tahun 1999. Ia ditugaskan ke berbagai negara untuk mendampingi para tentara AS yang bertugas di Afrika, Bosnia, Kosovo, Polandia dan Timur Tengah. Ia juga pernah ditugaskan di kamp penjara angkatan laut AS, kamp Guantanamo di Kuba, juga ke Irak selama 15 bulan.

Selama di Irak, Shabazz berkeliling ke barak-barak militer AS, memberikan pemahaman tentang Islam dan aspek budaya Islami pada para komandan dan prajurit nonmuslim. "Saya sampaikan pada para komandan pasukan AS di Irak, apa yang boleh dan tidak boleh berdasarkan ajaran agama Islam," tukasnya.
Shabazz mengatakan, prajurit yang muslim tidak berbeda dengan prajurit yang berlatar belakang agama lain. Tujuan utama mereka adalah ibadah. "Setiap Jumat, kami salat berjamaah. Kami saling memberikan dukungan satu sama lain, berusaha menciptakan kenyamanan bagi para jamaah dan memastikan jika para prajurit sedang menghadapi masalah dan kesulitan, kami selalu ada buat mereka," tandas Shabazz.

Dalam melaksanakan tugasnya, Shabazz mengaku lebih banyak menghabiskan waktunya untuk para prajurit yang nonmuslim. "Saya main bola basket dan angkat berat bersama mereka. Kebanyakan dari mereka dekat dengan saya bukan untuk alasan spiritual, tapi untuk mendapatkan pengarahan, saya menjadi mentor mereka," ujar Shabazz.
read more